728x90 AdSpace

Breaking

Ads[postpage]

Ads[homepage]

Monday, May 30, 2016

Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (1)

Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (1)
ILUSTRASI Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (1)

RAKYATINA.COM | CERBUNG: CERITA BERSAMBUNG OLEH  I PUTU SUGIH ARTA


RINAI GERIMIS MENERPA FAJAR


Senja itu, Nuning terhenyak. Usia kehamilannya yang telah memasuki 9 bulan hari ini, pertanda sewaktu-waktu putra sulungnya akan lahir. Tinggal menunggu waktu saja, sedangkan Ketut Bajra suaminya belum pulang dari menjemput Men Jirna si dukun bayi.
Senja pun meremang petang. Suaminya, belum datang juga. Awan hitam menggumpal membawa petir yang menyambar pohon-pohon besar. Nuning semakin cemas. Rasa was-was, semakin mengantui pikirannya. Ia tak pernah membayangkan hidup dengan penuh mengerikan seperti ini. Sebelum ia mengenal suaminya. Hidupnya dari keluarga yang berkecukupan di Kota Surabaya. Ayahnya yang masih keturunan ningrat dan menjabat kepala sekolah  rakyat cukup menjamin kehidupan yang keras di atas bayang-bayang pemerintah Belanda. Lantas, bertemu dengan Ktut Bajra secara kebetulan saja, tatkala  seorang guru baru yang ditugaskan mengajar di pedalaman Banyuwangi menghadap ayahnya. Mengajukan permohonan pindah ke Buleleng.
Sepasang mata pemuda itu indah sekali, sangat berbeda dengan pemuda keturunan Jawa lainnya.
“Romo, siapa pemuda itu ?”tanya Nuning, saat santap malam.
“Oh, itu ? Namanya Ketut….”
Nuning terperanjat saking kagetnya.
“Walaah…jorok banget namanya ! Romo, apakah nggak ada nama lain, kok orang tuanya memilih nama jorok gitu ?”
Raden Mas Aryo Kumitir, tersenyum melihat tingkah polah putrinya yang bergelagat aneh.
“Nduk… kamu belum mengahui budaya suku lain. Tiap suku bangsa yang ada di bawah pemerintahan Hindia Belanda memiliki ciri khas yang unik. Seperti, pemuda itu. Ia berasal dari Bali. Ciri khas orang Bali, dilihat dari namanya. Anak pertama namanya Gde atau Putu, yang kedua namanya Nengah atau Made, yang ketiga namanya Nyoman atau Komang dan terakhir yang bungsu namanya Ketut…..”
“Oh, Ketut bukan kentut ya Romo….!”
“Kamu yang justru salah ngerti to nduk….!”
“Ya, Romo…Nuning tak akan berprasangka lagi hik….hik….hik….”derainya mengingat kekeliruan yang telah diperbuatnya.
Sejak saat itulah, bayangan wajah Ketut Bajra muncul tak mengenal waktu. Nuning yang bersekolah di Sekolah Keutamaan Putri sering kali menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada teman-temannya. Sehingga, Winda yang selalu dengki padanya memfitnahnya telah mempunyai pacar. Padahal aturan sekolah yang ketat, tak mengijinkan siswinya mempunyai pacar selama menutut ilmu.
Sekolah menjadi heboh. Sungguh mengerikan, sampai ayahnya harus menghadap Ibu Kepala Sekolah untuk mengklarifikasi peristiwa yang dialaminya.
“Bapak sebagai guru,apalagi diberi kepercayaan sebagai Kepala Sekolah Rakyat seyogyanya memahami aturan pendidikan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dalam rangka menyukseskan pendidikan kaum pribumi, tak diperkenankan seorang siswi berpacaran…”ujar Bu Mareta yang berambut kriting dari Ambon.
Ayah yang biasanya halus, tiba-tiba menjadi sangar. Kumisnya berdiri, membentak  Nuning.
“Apakah benar kamu berpacaran di sekolah ?!”
Nuning menutup wajahnya. “Tidak Romo….mana berani Nuning melanggar aturan….”
Raden Mas Aryo Kumitir menoleh ke arah Bu Mareta dengan wajah meminta pertanggungjawaban.
“Ta…tapi…Winda yang bilang!”kilah Bu  Mareta.
“Tolong ibu panggil anak yang memfitnah anak saya….!”
Winda pun dipanggil Kepala Sekolah. Dihadapan Kepala Sekolah, ia mengelak mengatakan kata-kata fitnahannya. Akhirnya, Nuning pun direhabilitasi namanya. Ia kembali bersekolah dengan tenang.
Peristiwa demi peristiwa pun dialaminya sampai akhirnya setamat sekolah ia pun berhubungan diam-diam dengan Ketut melalui surat. Akhirnya, Ketut berhasil pindah ke kampung halamannya. Dan, berpacaran lewat surat. Mereka lakoni, sampai keluarga Ketut dari Buleleng datang memintanya untuk dijadikan istri anaknya.
Pintu diketuk dari luar, menghentak buyar lamunan Nuning. Perutnya semakin mules. Tapi, ia berusaha bangkit dari dipan bamboo tempatnya berbaring. Saat pintu dibuka, suaminya bersama si dukun bayi masuk. Nampak dari wajah Ketut, rasa khawatir yang luar biasa.
“Me, bagaimana ini ?”
“Biar aku lihat dulu…,”kata Men Jirna, sembari memegang kandungan Nuning. Mulutnya yang mengulum pinang sirih nampak merah bara. “Belum…belum ada tanda-tanda, sabarlah!”lanjutnya.
Pagi menjelang, kokok ayam jantan semakin keras bersahutan. Cahaya sang fajar menembus langit timur. Perut Nuning mulai sakit melilit. Ia pun berteriak mengejutkan Men Jirna yang  tak kuasa menahan kantuk. Tapi, karena pengalamannya ia pun membantu persalinan.
Rinai gerimis mulai deras di hamparan fajar menyingsing. Suara tangis bayi lelaki melengking membangunkan jagat raya. Seolah menyampaikan pesan, telah lahir sosok bayi yang akan membangkitkan bangsamu dari keterpurukan di bawah cengkraman panji kolonialis. Imperialis yang kejam.
Ketut Bajra merangkul putranya, ia membisikkan mantra gayatri, lalu berkata, ”ditengah perjuangan bangsamu, engkau bagaikan cahaya fajar yang memberikan semangat pantang menyerah untuk membela tanah airmu dari cengkraman penjajah….!” Air mata Ketut berlinang.
Nuning yang masih dalam perawatan Men Jirna, tak tahan melihat adegan ayah yang sedang menggendong anaknya yang masih merah. Ia pun urun menangis saking harunya. Ia dengar kata-kata suaminya dengan jelas.

“Nak, kuberi nama kamu Gde Putra Fajar, semoga dalam perjalanan kehidupanmu mendapatkan sinar kemuliaan….” (Bersambung)


Edisi terbitan:
I Putu Sugih Arta. (eds.1) 2016, Cerbung Putra Fajar, Kota: Mataram. www.rakyatina.com/ [30/05/2016]
Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (1) Reviewed by Abel Baretto on Monday, May 30, 2016 Rating: 5 ILUSTRASI Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (1) RAKYATINA.COM | CERBUNG: CERITA BERSAMBUNG OLEH   I PUTU SUGIH ARTA RINAI GERIMIS M...

Reaksi:

No comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Ads[postpage]