728x90 AdSpace

Breaking

Ads[postpage]

Ads[homepage]

Saturday, June 04, 2016

Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (2)

Ilustrasi. Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (2) 
RAKYATINA.COM | CERBUNG: CERITA BERSAMBUNG OLEH: I Putu Sugih Arta


SANG GURU DITUDUH MAKAR

Genap satu bulan tujuh hari penanggalan saka, bayi Gde Putra Fajar menghirup udara buana. Musibah itu datang. Ayahnya, difitnah rekan sejawat sebagai pemakar. Prestasi yang dicapai, Ketut Bajra selama dua tahun terakhir tak dihargai rekan gurunya. Persaingan ketat yang dikontruksi oleh pihak keresidenan Belanda, di sekolah cukup berhasil. Catur warna, sebagai konsep profesionalisme diubah semena-mena menjadi catur kasta yang berdinding tebal oleh Belanda. Dominasi atas, bagi kalangan para brahmana sebagai seorang guru, fungsinya diplesetkan secara piawai oleh  kapitalis Belanda. Status Ketut Bajra, dianggap sebagai keturunan “sudra” tak selayaknya menyandang predikat guru. Guru hanya boleh diperankan oleh kaum kasta brahmana. Ia lebih cocok sebagai buruh, pelayan kaum yang berada di golongan kasta di atasnya. Belanda melancarkan strategi devide et impera, memecah belah dan memaksa untuk menguasai budaya pribumi secara halus.
Penjajah Belanda memang licik, dengan caranya yang halus menanamkan pemahaman keliru menimbulkan konflik sosial bagi masyarakat jajahan. Beberapa orang yang menyandang gelar abadi diwariskan secara turun temurun sebagai brahmana, ksatria dan wesia pun terpengaruh. Beberapa teman sekerja Ketut, dibuat terbakar karena kemampuan yang dimiliki Ketut Bajra. Pasalnya, Belanda menebar isu bahwa keluarga Ketut Bajra adalah keluarga bogolan yang kena hukuman Belanda karena pernah menentang Belanda dengan cara membantu pasukan musuh Belanda yakni Raja I Gusti Made Karangasem dan Patih Jelantik tatkala mengadakan puputan di Jagaraga tahun 1849. Begitu pula, yang membuat mereka jengkel. Istri Ketut berdarah beda, bukan dari suku yang berkeyakinan sama. Akhirnya, satu-satunya jalan mematahkan kemampuan Ketut dengan menebar fitnah. 
“Nak, kuharap kau menyadari posisi kita. Sebagai guru janganlah terlalu menonjolkan diri. Nanti, kita dimusuhi sama orang sendiri….!”pesan ayahnya, Komang Tantra sebelum menghembuskan nafas terakhir akibat TBC akut, tepat setahun yang lalu. Tiga bulan setelah perayaan ‘ upacara merebu’ pernikahannya. Pesan ayahnya, justru menjadi pemacu semangatnya untuk menunjukkan kemampuan yang dimiliki selama ini. Ia pun menggarap perkumpulan pendidikan tradisional yang dinamakan Panti Dharma dengan ide mirip seperti Perguruan Taman Siswa. Tujuannya untuk mencerdaskan para kaum sudra yang selalu diinjak harkat martabatnya. Ide kontroversi ini cukup berhasil di desa-desa dan mendapat sambutan dari tetua adat. Apalagi semangat Budi Utomo di tanah Jawa menambah perjuangannya mendirikan Panti Darma di seluruh pelosok dusun.
Sosok kepemimpinan guru Ketut Bajra, semakin hari semakin bersinar. Ia bagaikan senjata bajra Dewa Brahma yang dipegang oleh Dewi Saraswati sebagai ibu ilmu pengetahuan. Berusaha gigih mencerdaskan kehidupan bangsa yang terpuruk akibat kerja paksa dan perbudakan. Bahkan, beberapa orang dari golongan warna brahmana, ksatria dan wesia mendukung kegiatannya dengan memberikannya tempat serta modal awal untuk bekerja.
Namun nasib tak bisa ditolak,  tatkala  usia putranya berumur jagung. Ia tak pernah menduga, akan bernasib patah arang. Satu batalyon infantri  polisi, bagian   pasukan keresidenan mendatangi pondoknya.
“He, dimana residivis inlander Ktut Bajra….! Surat perintah Residen Buleleng untuk menangkapnya hidup atau mati….beserta seluruh keluarganya….!”teriak Letnan Stevenson sembari menunjukkan surat perintah penangkapan.
Para serdadu ambon yang menjadi bawahannya mulai mengikat istri dan ibunya. Sedangkan, Gde Putra Fajar masih berada dirangkulan Nuning. Ketika tangisan bayi itu mengejutkan Ketut Bajra yang sedang mencuci sepeda di belakang pondok. Tergopoh-gopoh ia keluar, didapatinya istrinya bersimpuh pucat, tangannya diikat tali karung.
“Maaf…Tuan Polisi. Ada apa dengan istri dan ibuku ?!”sergah Ketut Bajra.
Komandan polisi itu menyerahkan surat yang mendiskriditkan dirinya tentang laporan beberapa guru di sekolahnya tentang perbuatan makar terhadap pemerintahan Belanda. Wajahnya  sontak  pucat pasi.  Namun, ia berusaha tenang.
“Aku tak pernah berbuat makar….semua ini fitnah….!”
“Kamu bisa punya alasan, nanti di pengadilan Kota Raja. Kamu bisa bilang sama pokrol kamu. Kami hanya menjalankan tugas….!”ujar Letnan Stevenson. Lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengikat lengan Ketut Bajra, lalu menyeret mereka keluar seperti orang hukuman.
Sampai di pintu halaman pondok rumah bambu. Tiba-tiba dari balik pohon besar, seorang misterius, berpakaian serba hitam menyambar Nuning dan putranya. Gerakan kilat yang tak mungkin diikuti mata biasa. Para serdadu polisi dengan persenjataan lengkap pun mengokang senapannya. Daaar….! Suara ledakan senapan, tembakan serentak mengarah kepada bayangan yang menghilang di balik pohon besar, penuh semak berduri. Kemudian mereka berhamburan menuju ke arah pohon besar, dengan pedangnya merambas semak. Tak ditemukan orang yang melarikan istri Ketut Bajra serta putranya.
“Siiiapa itu….?”tanya Letnan Stevenson pada Ketut Bajra, yang terbelalak tak percaya akan pandangannya. Kembali bule itu melontarkan pertanyaan yang sama dan mendapat jawaban bisu dari Ketut Bajra. Saking jengkelnya popor pistol digenggamannya dihantamkan ke dahi Ketut yang mengerang kesakitan.
“Jangan siksa anakku….ia tak bersalah….!”tangis ibu Ketut Bajra sembari meneteskan air mata, merembes di lipatan keriput tulang pipinya.
“Sudah….seret laknat ini ke kantor!”perintah Letnan Stevenson tanpa belas kasihan. Warga sekitarnya berhamburan ke jalan melihat peristiwa memilukan yang sangat menyayat dada. Mereka bertanya-tanya, salah apa guru mereka sehingga harus ditahan polisi Belanda. Ketut Bajra tak pernah menentang perintah Belanda. Ia bahkan guru yang paling teladan, dengan membangun Panti Darma di dusun-dusun, menjadikan  program pendidikan Pemerintah Hindia Belanda menyentuh sampai ke lapisan bumi putera paling bawah. Sehingga,  kendati  mereka dibebani pajak tinggi. Nawa mereka tak merasa dibebani. Karena, dengan pendidikan yang diberikan oleh Belanda telah terbayar tekanan keras selama ini, yang dihadapi mereka. (Bersambung)


Edisi terbitan:
I Putu Sugih Arta. (eds.2) 2016, Cerbung Putra Fajar, Kota: Mataram. www.rakyatina.com/ [04/06/2016]
Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (2) Reviewed by Abel Baretto on Saturday, June 04, 2016 Rating: 5 Ilustrasi. Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (2)  RAKYATINA.COM | CERBUNG:  CERITA BERSAMBUNG OLEH: I Putu Sugih Arta SANG GURU DITUDUH...

Reaksi:

No comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Ads[postpage]