728x90 AdSpace

Breaking

Ads[postpage]

Ads[homepage]

Friday, June 10, 2016

Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (3-Selesai)

Ilustrasi. Cerita Bersambung: Putra Fajar
RAKYATINA.COM | CERBUNG: Cerita Bersambung oleh: I Putu Sugih Arta.

Edisi-1/cerbung

TERDAMPAR DI PADEPOKAN SRINTI HITAM

Entah bagaimana kejadiannya, Nuning pingsan dalam bopongan orang yang bertangan kekar. Ia baru sadar, tatkala suasana sejuk menerpa tarikan nafas pertamanya. Ia berada di sebuah ruangan berdinding anyaman bambu seluas + 8 meter persegi. Atapnya dari ilalang, dan lantainya dari papan kering. Tak ada orang selain putranya yang masih berumur 2 bulan.
Dari balik jendela yang menghadap ke jalan ia mengintip keluar, dilihatnya jelas rumah-rumah panggung berjajar dengan rapi sampai dipengkolan lantas menghilang tertutup pepohonan. Benaknya bertanya-tanya, di mana ia dan putranya berada ? Namun, perasaan lubuk hati terdalam menjawab, untuk tak perlu galau. Sebab, tempat tinggalnya menyiratkan aura aman yang sangat terlindungi dari ancaman bahaya.
Kreeet….! Suara pintu kamar perlahan terbuka, orang tua yang berusia tujuh puluhan tahun masuk membawa nasi yang dibungkus daun pisang.
“Makanlah dulu….kau pasti lapar….”katanya dengan suara yang berat. Meletakkan nasi bungkus  berikut kendi tanah liat di atas meja. Tanpa banyak bicara, lantas keluar dari kamar itu. Dari suara orang tua itu nampak jelas ia bukan orang jahat. Nuning merasakan hawa perlindungan memancar dari suara itu. Namun siapa dia ?
 Nuning bertanya-tanya dalam hati. Selama ini, dalam keluarga besar Ketut Bajra tak ada wajah seperti itu. Hanya, ia pernah mendengar cerita ayahnya Ketut, bahwa kakek Ketut seorang pejuang pembela tanah air tatkala puputan Jagaraga. Ia menghilang tak diketemukan jasadnya. Apakah ini orangnya ? Batinnya bertanya-tanya, Nuning dari usia kanak-kanak mempunyai kepekaan tersendiri terhadap sesuatu, jarang tebakannya gagal jika suara hatinya menebak demikian.
Daripada harus berpikir lama, perutnya mulai keroncongan. Nuning meraih nasi bungkus yang masih terasa hangat. Dibukanya lipatan daun yang dihubungkan dengan semat bambu. Aroma sedap dendeng kerbau dengan bumbu plalah yang mengundang rasa lapar membuatnya lahap mengabiskan sisa nasi yang menempel di punggung daun pisang. Saat ceret air di teguknya, orang tua itu muncul dari pintu.
“Nuning, benar sekali apa yang kau pikirkan…”tebaknya. “Aku adalah kakek dari Ketut Bajra yang menghilang saat ayahnya masih orok,”lanjutnya.
“Haah….????!”Nuning terkejut setengah mati, ulu hatinya mendadak mual, nasi yang telah bersarang di lambungnya terasa hendak mbrojol keluar.
“Jangan biasakan kau terkejut di tempat ini….anggap hal biasa saja….”sarannya.
“Tapi, kakek kenapa kami diajak ke sini ? Daerah apa namanya ?”
“Dusun ini bernama Dusun Kalimaya, tersembunyi di antara dua buah bukit. Kami gunakan tempat strategis ini untuk melindungi diri dari penjajah Belanda, sejak mereka bercokol di tanah Bali, mereka selalu mengejar-kejar kami. Karena dianggap berbahaya dan suatu saat dapat mengusir mereka dari pulau ini. Kami mendirikan Padepokan Srinti Hitam, yang bertugas melindungi perkampungan ini dari orang jahat….”
“Padepokan Srinti Hitam …?!”
“Ya, semacam perguruan kanuragan yang diwariskan oleh I Jero Mangku Anaring Peken. Seorang pertapa yang kerap dipanggil Tuan Peken, jika turun ke kota membeli bahan-bahan makanan untuk pelayan Pura Konco yang dibangun leluhurnya dulu saat zaman Sriwijaya….”
“Pura Konco yang dipesisir… ?!”Nuning pernah melintasi pelabuhan  Gilimanuk melihat Pura itu megah berdiri menghadap laut.
“Ya, cucuku….tapi leluhurnya dulu. Namun, sejak bergabung dengan pasukan Patih Jelantik ia dianggap pemberontak. Kakek bersahabat baik dengan Tuan Peken pun dianggap musuh Belanda. Terpaksa kami menghilang membangun padepokan di sini. Dan, percuma melakukan perlawanan karena menurut ramalan Dewa Konco jika Sang Putra Fajar belum dewasa, negeri ini akan dijajah Belanda kemudian dijajah pula oleh pasukan Matahari Terbit. Untuk melakukan perlawanan sia-sia, hukumnya dosa. Sambil menunggu dewasanya Sang Putra Fajar, kami menata tempat ini menjadi sebuah padepokan kanuragan yang sangat rahasia…”
“Tapi, apa alasan Kakek menyelamatkan kami saja. Sedangkan, suami dan ibu mertua tidak ditolong seperti aku dan anakku ?”Wajah Nuning memelas hendak menangis saking sedihnya mengingat Ketut Bajra dalam bahaya.
“Alasannya, karena cucu buyutku lah yang bernama Gde Putra Fajar…. Perintah Tuan Peken untuk menyelamatkan keturunanku. Tak ada alasan yang lain….!”Orang tua itu sedih, wajahnya muram mengingat cucunya ditangkap Belanda. Mungkin sekarang mengalami siksaan yang tak terkira deritanya. Mereka pun membisu.
Di dada Nuning yang sesak oleh kesedihan, ribuan pertanyaan menggantung di antaranya tentang status nama yang disandang putranya. Apakah itu, alasan yang tepat Belanda menciduk suaminya ? Atau yang lain. Sejak saat itu, Nuning lebih berdiam diri. Ia tak mau berbicara. Tapi, kegiatan di kampung itu, yang kebetulan dipimpin oleh Ketua Kelihan yakni kakeknya sendiri tetap dilakoninya. Sehingga, warga semakin simpati kepada Nuning dan putranya.
Saban malam, Nuning digembleng ilmu kanuragan dari kakeknya yang dikenal dengan nama Pendekar Utama Srinti Hitam. Latihan pun diikuti, karena memang tradisi padepokan yang mewajibkan seluruh anggota keluarga di kampung itu, terutama dari usia kanak-kanak telah mampu berjalan diberikan pelatihan ilmu yang sama. Tujuannya untuk memobilisasi kekuatan kampung menjadi hebat. Padepokan pun menjadi kukuh. Seperti namanya Srinti Hitam, menghasilkan daya kekuatan pada sarangnya. Daya sarang burung Srinti mampu menyebuhkan segala penyakit yang di derita orang sekaligus menambah vitalitas tubuh.
Sekian hari telah berlalu, Nuning telah beradaptasi dengan baik. Kepribadian supelnya menghantar kepada teman-temannya. Mereka sangat menyukai kepribadian Nuning yang ramah dan tak memilih berteman, siapa pun dijadikan sahabat.
 Hari yang naas itu datang, seseorang pendekar teliksandi dari Padepokan Srinti Hitam melompat-lompat di atas wuwungan rumah panggung  yang berjejer rapi. Lalu, dengan piawainya menggunakan ilmu meringankan tubuh jumpalitan turun tepat di halaman rumahnya. Nuning menyambut pemuda bertopeng ramah. Ia pun membuka cadar hitamnya.
“Bu Nuning, aku mau bertemu Bape Kelihan….!”
“Aduh Bape lagi ke hutan mencari kayu bakar. Ada yang perlu disampaikan ? Kendati rahasia, aku akan menjaganya sebaik mungkin….!”
Pendekar teliksandi tanpa ragu lagi menyampaikan sebuah berita duka. Guru Ketut Bajra dihukum gantung di alun-alun pagi ini karena dituduh makar oleh Belanda. Nuning pun menangis sejadi-jadinya. Tiada lama kemudian Kakeknya datang dari hutan, menemukan cucunya menangis ia pun bertanya kepada teliksandi.
“Di alun-alun mana ?”sergahnya.
“Kotaraja, Bape ….!”sahut Teliksandi.
“Ayo kita kesana, selamatkan cucuku…!”
“Aku ikut….!”isak Nuning sembari menggendong Gde Putra Fajar membuntuti kedua pendekar itu dari belakang.
Jarak padepokan dengan koraraja cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki.  Sampailah mereka di alun-alun, sudah hampir siang kerumunan orang-orang sangat banyak. Dari ketinggian, dilihatnya dari jauh, leher Ketut Bajra dikalungkan tali oleh penjajah itu. Terlambat….! Suara salvo senapan pasukan Belanda menggelegar. Bersamaan dengan itu, kursi tempat Ketut berdiri dilepas. Hanya sekian menit saja, kejadian itu.
Nuning kelelahan, dengan tertatih-tatih mendekati kerumunan orang-orang yang menurunkan tubuh Ketut Bajra yang kejang dengan mata melotot. Lidah terjulur. Tatapan bocah lugu nampak sedih, melihat langsung ayahnya dari dekat, kaku telah menjadi mayat. Nuning tak bisa berkata-kata. Lehernya tercekat, bibirnya kering. Matanya nanar, berputar. Saat hendak terjungkal, ia merasakan tubuhnya melayang seperti diterbangkan burung raksasa. Rupanya, sepasang pendekar Srinti Hitam itu sigap menangkap tubuh Nuning dan anaknya. Segera menjauhkannya dari beberapa anggota pasukan Belanda yang sengaja datang ke arahnya.(Selesai)   

Edisi terbitan:
I Putu Sugih Arta. (eds.3) 2016, Cerbung Putra Fajar, Kota: Mataram. www.rakyatina.com/ [10/06/2016]
Cerita Bersambung PUTRA FAJAR (3-Selesai) Reviewed by Abel Baretto on Friday, June 10, 2016 Rating: 5 Ilustrasi. Cerita Bersambung: Putra Fajar RAKYATINA.COM | CERBUNG: Cerita Bersambung oleh: I Putu Sugih Arta . Edisi-1/cerbung ...

Reaksi:

No comments:

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Ads[postpage]